Digital literacy workshop at PKBM Mentari Fajar

Digital literacy plays important role in the age where information technology and connectivity of devices dominates our modern life. Furthermore, the abundance of information and affordable gadget have made this literacy even more important than before. It is not uncommon to see people texting each other while listening to music from audio-streaming server or watching videos in YouTube using their other devices such as mobile phone, laptop, tablet, or personal computer.

Despite the above high-in-demand literacy, not all people posses these skills. These people include students at PKBM Mentari Fajar, especially those who belong to Paket B and Paket C. Some students can use their mobiles to text or send messages through text-messaging system such as SMS or WhatsApp or but cannot maximize their mobile to search information effectively. Even when they do have these skills, still some find it difficult to just create content on blog sites or upload their videos in YouTube.

Udayana University, as one of the public university in Bali, has responsibility to share its expertise and to serve the community through community services. A team consists of four lecturers at the Faculty of Mathematics and Natural Sciences delivered workshop on digital literacy at PKBM Mentari Fajar. The team led by I Wayan Sumarjaya and members (Martin Joni, James Sibarani, and I Gede Arta Wibawa) delivered topics such as using Google’s advanced search features; detecting media bias, misinformation, and fact check; and creating and uploading videos in blog. During the workshop the students were actively participated and the found the workshop to be very useful.

The authors would like to thank Udayana University, in particular LPPM, for the community service grant (number B/100-28/UN14.4.A/PM.01.03/2021).

Note that this article is re-posted at https://udayananetworking.unud.ac.id/lecturer/scientific/2376-i-wayan-sumarjaya/digital-literacy-workshop-at-pkbm-mentari-fajar-1552

Mengapa menulis skripsi sulit? (Bagian I)

Skripsi merupakan salah satu syarat untuk menjadi sarjana pada hampir semua program studi strata satu di Indonesia. Hal yang menarik adalah banyak mahasiswa yang kesulitan untuk menulis skripsi atau yang lebih penting lagi, menyelesaikan skripsi ini perlu waktu yang lama. Apakah memang benar demikian?
Tidak dapat dipungkiri bahwa menulis adalah pekerjaan yang sulit. Saat menulis kita menuangkan ide atau gagasan; membuat argumentasi, narasi, deskripsi, atau eksposisi; menggunakan bahasa dengan baik dan benar; dan membuat tulisan yang memiliki paragraf padu-padan.

Berikut ini beberapa tip yang bisa membantu memperlancar pembuatan skripsi:

  1. Buatlah peta pikiran (mind map). Peta pikiran membantu kita dalam menuangkan ide, konsep, pertanyaan, hasil penelitian, dan lain-lain. Peta pikiran ini akan bertambah seiring semakin banyak literatur yang kita baca. Pada saatnya nanti kita tentukan mana di antara bagian-bagian dalam peta pikiran yang akan digunakan sebagai topik dalam skripsi.
  2. Gunakan Kamus Besar Bahasa Indonesia edisi terbaru (baik daring maupun luring), Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia, Pedoman Umum Pembentukan Istilah, Glosarium, dan sumber-sumber lain yang diterbitkan oleh lembaga berwenang seperti Pusat Bahasa atau sejenis. Penggunaan sumber-sumber tang disebutkan ini menghindarkan kita dari kesalahan akibat penggunaan kata yang tidak tepat, ejaan yang salah, dan kalimat yang tidak efektif.
  3. Lakukan siklus: edit, baca, dan cetak. Setelah mengedit, baca lagi tulisan. Kemudian cetak draf. Baca lagi, kemudian edit. Cetak lagi. Setelah itu berikan orang lain draf naskah tersebut. Orang lain itu bisa pacar, teman, atau siapapun. Mintalah pendapat dari mereka yang kita mintakan bantuan membaca. Dengan cara ini, banyak hal yang bisa diperbaiki karena orang yang baca apalagi pertama kali membaca akan banyak bertanya dan berusaha mengerti.

Data untuk distribusi Weibull

Misalkan sampel acak berukuran n dari distribusi Weibull dengan
parameter skala dan bentuk yang tidak diketahui, biasanya ditulis X_i \sim \text{WEI}(\theta,\beta) yaitu:
f(x;\theta, \beta) = \dfrac{\beta}{\theta}              \biggl(\dfrac{x}{\theta}\biggr)^{\beta -               1}\exp\biggl[-\biggl(\dfrac{x}{\theta}\biggr)^{\beta}\biggr]
untuk x > 0, \theta > 0, dan \beta > 0. Hitunglah penduga kemungkinan maksimum untuk \theta dan \beta. Apakah Anda memporoleh solusi dalam bentuk analitik?
Berikut ini data untuk latihan soal distribusi Weibull:

2.761079e-01 2.899469e-01 2.331324e-01 2.329219e-01 3.620005e+01
5.358794e-01 1.078458e+00 7.252200e-02 3.130417e+00 1.506362e-02
3.359650e-01 2.387329e-01 1.677288e-02 1.860141e-01 4.076038e-01
7.704586e-01 1.045132e-01 2.182644e+00 2.467723e-02 1.249724e-02
1.837686e-01 1.517090e+00 2.411856e+00 9.788830e-02 3.158351e-01
1.117657e-01 1.011012e-01 2.810200e+00 3.705359e-01 8.593454e-01
2.353582e-01 7.548088e-03 2.261135e-02 1.704792e+00 1.394062e-01
5.086239e-02 1.626175e+00 1.727046e-01 2.182670e-01 3.424716e+00
1.649855e-01 7.490684e-01 2.801638e+00 3.647473e-02 5.154344e+00
2.998134e+00 4.801318e+00 4.780464e-01 3.606753e-02 1.167641e-01
7.987005e-01 4.086280e-01 1.494992e+00 1.690697e-02 4.827550e-01
6.933065e-01 6.068393e-02 3.752874e-01 1.289508e-01 2.058122e-01
3.868674e-03 8.983210e-01 2.290793e-01 1.082252e+00 5.818681e+00
7.486718e-01 2.863869e-01 7.119194e-01 2.887097e+00 3.537974e+00
2.267090e-01 3.111377e-01 9.797544e-01 2.274551e-02 4.165729e-03
1.539304e-01 1.232729e+00 1.614680e-03 9.755617e-01 3.025505e-02
2.005117e-02 1.967552e-02 2.836228e+00 2.949261e+00 3.503895e-01
3.307756e-05 7.841918e-01 7.810753e-01 1.110260e-01 3.577771e-01
4.878408e-02 6.717570e-02 1.433184e+00 5.271922e-01 9.894649e-01
8.896257e-03 3.236294e+00 1.392723e+00 2.726962e+00 2.629035e-01

Di atas versus diatas

Kata depan di- dan awalan di selalu menjadi momok bagi mahasiswa (dan juga dosen (?) ). Kenapa demikian? Atau lebih jelasnya, kenapa begitu susah mahasiswa membedakan antara kata depan dan awalan. Kekaburan penggunaan ini sebenarnya tidak perlu terjadi kalau kita bisa membedakan mana kata di- sebagai kata depan dan mana di- sebagai awalan. Sebagai kata depan, di- menyatakan posisi atau tempat. Sebagai contoh kalimat Berdasarkan tabel diatas dapat disimpulkan bahwa deret X konvergen ke 0 sebagaimana n\rightarrow \infty. Pada kalimat ini jelas di- adalah kata depan karena menunjukkan tempat atau lokasi. Jadi kata diatas  seharusnya ditulis menjadi di atas. Dengan demikian kalimat tersebut seharusnya Berdasarkan tabel di atas dapat disimpulkan bahwa deret X konvergen ke 0 sebagaimana n\rightarrow \infty

Sekarang di sebagai awalan ditulis serangkai dengan kata kerja yang mengikutinya. Sebagai contoh pada kalimat Deret waktu X_t diasumsikan stasioner dengan nilai tengah \mu dan varians \sigma^2Jadi kalimat Deret waktu X_t di asumsikan stasioner dengan nilai tengah \mu dan varians \sigma^2 tentunya kurang tepat.